4 singky 4TribratanewsJatim.com: Singky Soewadji, pemerhati satwa, yang sempat “mangkir” dalam pemanggilan pertama status tersangka kasus pencemaran nama baik,  akhirnya, Rabu (4/11/2015) mendatangi penyidik Unit V Subdit I Kamneg Ditreskrimum Polda Jatim.

Dalam pemeriksaan sekitar 4 jam berkutat terkait tulisannya di facebook yang dianggap “menyerang” seseorang itu, Singky didampingi kuasa hukumnya Subuh Susilo dari advocates & legal consultant Martin Suryana & Associates.

“Yang pertama kebetulan tak bisa hadir, karena saya sebagai Ketua Perkin (Perkumpulan Kinologi Indonesia) dan sedang melakukan pameran anjing. Saat itu, pamerannya Sabtu dan Minggu. Lalu panggilannya Senin,” ujar Singky.

Dikatakan Singky, bahwa pokok induk permasalahan yang ditangani Polrestabes Surabaya soal siapa-siapa saja yang mengeluarkan satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) atas nama Tim Pengelola Sementara itu ternyata dihentikan atau SP-3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan).

“Ada 6 orang yang kita laporkan waktu itu.Tapi di SP3. Padahal harusnya kasus itu dibongkar polisi,” tegasnya.

Namun demikian, kenyataan yang ada disaat pihaknya mencari titik terang permasalahan itu ternyata kasus yang dilaporkan ke Polda Jatim berjalan. “Padahal ada kaitannya. Disana (Polrestabes Surabaya) mandek, tapi di Polda maju. Kami lalu meminta pendampingi kuasa hukum untuk mengajukan keberatan, tapi surat yang kami tujukan ke Direktur Reskrimum belum turun, kami dipanggil sebagai tersangka. Sebagai warga negara yang taat hukum, kami hadir,” ujarnya.

Dalam facebook, kata Singky,  yang diunggah waktu itu ditegaskan tak ada tujuan untuk memojokkan institusi atau perorangan dan ini riil yang ditemukan di lapangan. “Ini temuan saya nyata. Salah satu posting soal primata yang dikerangkeng, hampir semua kebun bintang di Indonesia seperti itu tapi di KBS masih lebih baik. Di Kebun Binatang Pematang Siantar sendiri juga demikian, dan ini fakta tapi KBS selalu diberitakan yang tak baik dan itu saya sebut naif,” tegasnya.

Bahkan, sekitar 420 satwa di KBS “dijarah” dan dikeluarkan tak sesuai prosedural yang ada. “Menurut saya, satwa yang diteri KBS standarnya masih dibawah KBS. Ini fakta yang diungkap, saya nilai KBS masih bagus,” terangnya.

Disinggung soal statusnya sebagai tersangka, Singky menegaskan, bahwa status yang diberikan padanya itu hak dari Kepolisian. “Bukannya saya menantang polisi, maaf. Jangankan status tersangka, hari ini (kemarin) saya ditahan, bagi saya bangga. Karena saya memperjuangkan kebenaran, daripada saya diperiksa korupsi,” ujarnya.

Singky menambahkan, soal kasusnya tidak mempersalahkannya. “Itu kewajiban, dan polisi menerima laporan. Saya yakin polisi tak akan jadi alat kebenaran dan dipakai untuk memojokkan dan polisi profesional dalam menjalankan tugasnya,” tandasnya.

Upaya Menteri Kehutanan untuk memperbarui Permenhut Nomor 31 harusnya ada perubahan yang mendasar. “Setelah saya tunggu-tunggu tak ada, dan sanksinya apa?bagi saya itu tak adil. Ketika orang kecil menjual lutung langsung diproses, tapi yang atas tidak. Seperti pisau tajam dibawah, tumpul diatas,” ujarnya sembari menambahkan ini sebenarnya bisa menjadi win-win solution jika ada kepedulian terhadap satwa. Contohnya harimau.

Diberikan contoh,  kalau harimau butuh kandang atau cold storage, silahkan dibahas bersama. Jangan diberikan ke saya atau Walikota, mungkin tak sampai Rp 200 juta. Padahal, selama ini puluhan miliar yang diambil dari jual beli satwa yang tak prosedural itu,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula dari laporan pencemaran nama baik polemik pertukaran ratusan satwa KBS. Pelapornya adalah Rahmat Shah, ketua Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) dan Sekretarisnya, Tony Sumampau.

Singky Soewadji terindikasi kuat dalam tuduhan pencemaran nama baik yang diadukan pelapor. Terkait pernyataannya di Facebook sehingga akibat hal tersebut, status Singky naik menjadi tersangka, dan Singky dijerat dengan pasal tentang pencemaran nama baik.

Adapun status facebook yang diunggah yaitu Gara-garanya saya posting di Facebook, yg posting seperti ini :
Tahukah anda ?
Apa kata PETA (People for the Ethical Treatment of Animal) soal kandang Orang Utan seperti ini? Dan kandang seperti ini ada di Taman Hewan Pematang Siantar milik Ketum PKBSI Rahmat Shah lho !
Begini kok dibilang KBS tidak layak ? Masih lebih layak Taman Hewan Pematang Siantarkah ? Kenapa anggota PKBSI lain diam ?
Biar langit runtuh, kasus “Penjarahan” Satwa KBS harus diungkap dan penjahat konseervasi yang berkedok konservasi harus di Krangkeng seperti Orang Utan ini. (mbah heru)

Foto: Singky (kanan) didampingi kuasa hukumnya, Subuh Susilo usai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Jatim