61kapolda1TribratanewsJatim, Banyuwangi – Markas TNI AL Banyuwangi bukan tempat asing bagi Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji. Mengawali kunjungan kerjanya di daerah berjuluk Sunrise of Java Kamis malam (17/9/2015), Anton yang sekarang disebut semeru satu langsung menuju markas TNI AL di utara Pelabuhan ASDP Ketapang untuk menginap di sini, ungkapnya.

Apa sebenarnya yang istimewa dengan Markas TNI AL Banyuwangi bagi Irjen Anton Setiadji? “Ini dalam rangka membayar hutang. Dulu ketika menjadi Kapolres Banyuwangi saya pernah berjanji bila menjabat Kapolda Jatim akan tidur di Lanal. Sekarang janji itu terlaksana,” ungkap Anton dalam sambutan singkat.

Selain itu, saat pertama datang ke Bumi Blambangan tahun 2000 silam, perwira tinggi Polri asal Jember ini juga mengawali tugasnya dari Markas TNI AL. Kala itu, Anton Setiadi masih berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP) dengan posisi sebagai Kapolres Banyuwangi.

Itulah kaitan sejarah mengapa kunker kapolda Jatim di Banyuwangi diawali dari sini. Sesuai prasasti yang tertulis di dinding ruang tunggu utama Mapolres Banyuwangi, nama AKBP Anton Setiadi tertulis setelah AKBP Imam Sujarwo. Itu berarti dia menggantikan AKBP Imam Sujarwo yang lebih dulu menjadi kapolres di ujung timur Pulau Jawa ini. Dalam catatan prasasti itu pula dijelaskan masa kepemimpinan AKBP Anton Setiadi yang berjalan kurang lebih satu tahun. Periodenya antara tahun 2000-2001.

Patut diingat, masa-masa itu adalah era reformasi yang baru bergulir dimana aksi pembalakkan hutan milik Perhutani sangat marak di Tanah Blambangan.  Cerita Kabagops Polres Banyuwangi Kompol Sujarwo yang dulu pernah menjadi bawahanya. Aksi pembalakkan liar yang tak terkendali hingga membuat hutan Bumi Minakjinggo gundul mendorong AKBP Anton Setiadi melakukan gebrakkan penegakkan hukum.

“Operasi illegal logging besar-besaran dilakukan menyeluruh dari utara-selatan-barat dan utara. Seratus truk kita libatkan untuk mengangkut hasil pembalakkan. Tapi itu tetap tidak cukup. Banyak kayu yang tidak terangkut saat operasi itu. Sejumlah tempat penampungan kayu (TPK) milik Perhutani sampai over kapasitas menampung kayu hasil pembalakkan,” kenang perwira menengah yang akrab disapa Pak Jarwo.

Langkah penegakkan hukum berskala besar kedua yang dijalankan AKBP Anton Setiadi adalah pengepungan sebuah kampung di wilayah Kecamatan Licin.

Operasi tersebut digulirkan menyusul penyerangan warga menggunakan sebilah clurit terhadap salah satu perwira Polres Banyuwangi saat razia. “Operasi pencarian terhadap pelaku penyeranganpun digelar besar-besaran. Satu persatu rumah warga digeledah. Sampai akhirnya aparat menemukan pelakunya dengan ciri bekas luka di dada akibat terkena peluru karet aparat,” kenang Kompol Sujarwo.

Sang bintang itu datang lagi. Tiba dengan jabatan yang jauh lebih tinggi.  Namun gayanya tetap tidak berubah. Masih seperti kala memimpin Banyuwangi periode 2000-2001 lalu. Kehadirannya pukul 19.20 WIB disambut Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama serta jajaran di bawahnya yang mengenakan baju adat Osing hitam-hitam, plus ikat kepala batik. Tak ketinggalan sang empunya markas, Danlanal Banyuwangi Letkol Wahyu P. Indrawan juga ramah sebagai tuan rumah.

Selanjutnya Semeru satu mengikuti jamuan makan malam bersama anggota Polri dan TNI AL beserta unsur forpimda lainnya, dan malam ini dijadwalkan menginap di TNI AL., tampak banner, spanduk, bertuliskan “Selamat datang Irjen Anton Setiadji, Selamat mengenang masa lalu, Rakyat Jawa Timur khususnya  Bumi Blambangan menunggu gebrakan barumu.(mku/pid bwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here