para peserta diklat tsPASURUAN (halopolisi.com) – Berbekal pengetahuan seadanya tentang lingkungan hidup, Wagisan, warga dusun Mendiro Kab Jombang bersama warga dusun Mendiro Kab Jombang berinisiatif menanam pohon buah di lahan hutan gundul seluas 50 Ha. Inisiatifnya itu telah menyelamatkan hutan dari ancaman longsor dan kekeringan. Bahkan, Wagisan dan warga sekitar kini bisa mendapatkan nilai tambah ekonomi dari pohon yang ditanamnya itu.

Inilah salah satu contoh peran aktif masyarakat terhadap upaya pelestarian lingkungan karena  Pemerintah tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa bantuan masyarakat. Atas dasar inilah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) wilayah 3 Jawa Timur untuk kali pertama menyelenggarakan diklat pembentukan kader konservasi tingkat pemula. Diikuti sekitar 30 orang, diklat ini dilaksanakan di Banteng Camp Taman Safari Indonesia II (TSI 2) pada 27 hingga 30 Agustus 2015.

“Ini sesuai dengan amanat UU terutama UU No 5 tahun 1990 pasal 37 ayat 2. Bahwa dalam tugas  konservasi pemerintah tidak bisa menanganinya sendiri. Peran aktif kelompok masyarakat sangat kami nantikan salah satunya melalui diklat ini,” terang Kepala seksi wilayah 3 Surabaya BBKSDA, Wiwid Widodo.

Wiwid menambahkan, peran kelompok masyarakat mulai pecinta alam, mitra polisi kehutanan, Manggala Agni (pemadam kebakaran hutan) hingga masyarakat umum terutama para pendidik sangat dibutuhkan untuk membantu upaya pemerintah melakukan upaya konservasi alam. Peran aktif masyarakat ini bisa dalam bentuk penyampaian informasi-informasi tentang konservasi seperti perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.

“Ini adalah kegiatan pertama kali kami di wilayah Surabaya dan kami sengaja menunjuk TSI 2 sebagai tuan rumahnya agar peserta nantinya juga bisa melihat secara langsung aktifitas konservasi yang telah dilakukan di TSI 2 ini, “ lanjutnya.

Diklat pembentukan kader konservasi merupakan program resmi BBKSDA yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Ada 2 jenjang yang harus dilalui di tingkat propinsi, yakni tingkat pemula dan madya. Menurut Wiwid, setiap duta konservasi nantinya diharuskan membuat program kerja tentang aksi lingkungan dan pemerintah akan membantu pembiayaannya. “Kegiatan bisa diwujudkan lewat program-program sederhana seperti bersih-bersih sungai atau mungkin orasi tentang isu-isu lingkungan hidup di tempat umum,” imbuh Wiwid.

Selain pengetahuan tentang konservasi, peserta juga dibekali materi-materi dasar seputar kepemimpinan dan tehnik motivasi masyarakat karena duta konservasi ini kelak akan menjadi sukarelawan yang terus mengkampanyekan pentingnya pelestarian alam pada masyakarat. Termasuk memonitoring aktifitas yang dilakukan pusat-pusat konservasi yang ada di sekitarnya.

“Kami berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang secara sukarela bergabung dengan kami dan turut membantu upaya pelestarian alam secara aktif,” ujar kepala seksi BKSDA yang membawahi wilayah Surabaya, Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan pulau Bawean ini bersemangat.(ts/abi)

FOTO: Peserta diklat pembentukan kader konservasi tingkat pemula.(ts)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here