7 Kabid 2Tribrata.NewsJatim: Selayang Pandang, tragedi Sabtu Pon, 26 September 2015 di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur masih belum bisa terlupakan dari ingatan kita. Berbagai media, mulai televisi, media cetak dan online serta radio hampir setiap hari mengupas tragedi kasus itu.

Begitu gencarnya pemberitaan, tak hayal kasus itu sampai sampai menjadi perhatian publik. Termasuk Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti berkomentar agar penanganan kasus itu tuntas. Di sisi lain, berbagai unjukrasa atau demo dilancarkan, yang tujuannya agar penanganan kasus itu diusut tuntas, termasuk siapapun pelakunya.

Kerja ekstra keras polisi untuk segera menuntaskan kasus itu butuh waktu. Namun demikian, seiring bergulirnya waktu, akhirnya puluhan pelaku pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan bisa dijebloskan tahanan, setelah penyidik mengumpulkan bukti dan para saksi.

Ditahannya para tersangka tak lain untuk proses penyidikan hingga berkas pemeriksaan para tersangka dikirim oleh penyidik kepada Kejaksaan. Tentunya, dalam tempo cepat atau lambat, proses penyidikan kasus itu segera tuntas. Mengingat, sejak terjadinya tragedi berdarah di Desa tersebut hingga sekarang, 13 Oktober 2015, sebagian proses penyidikan terhadap para pelaku belum tuntas.

Sementara pasca tragedi berdarah di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, sekali lagi, kerja ekstra polisi untuk menuntaskan kasus itu tetap diharapkan oleh publik. Diantaranya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) dan Kapolda Jatim, Irjen Anton Setiadji juga berharap lebih dari masyarakat, yakni penanganan kasus itu segera tuntas. Dan situasi atau kondisi  kamtibmas di Jawa Timur bisa kembali kondusif. Mengingat, pada 9 Desember 2015 bakal bergulir Pilkada Serentak.

Pendampingan Psikologis

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes R.P Argo Yuwono, Kamis (15/10/2015) menjelaskan, tragedi berdarah itu, polisi bukan hanya memproses para pelaku hingga tuntas, namun lebih dari itu. Polisi juga memiliki tugas dan tanggungjawab memberi pelayanan psikologis kepada masyarakat, pasca tragedi berdarah. Bantuan layanan psikologis, bukan hanya terhadap pelaku. Namun pelayanan bisa dilakukan kepada korban, saksi dan masyarakat yang terkena dampak dari peristiwa kriminal ataupun korban dari suatu bencana.

Diawali pasca tragedi berdarah itulah, dari inisiatif  Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji, mengirim anggotanya dari bagian Psikologi Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Timur untuk melaksanakan pendampingan Psikologis dan Trauma Healing  pasca terjadinya kasus berdarah di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Siapa saja yang butuh bantuan pendampingan Psikologis, diantaranya mulai dari istri almarhum Salim Kancil termasuk anaknya sampai masyarakat setempat berdomisili di sekitar lokasi kejadian hingga para guru, siswa dan orangtua siswa.

Tujuan pendampingan Psikologis dan Trauma Healing sangat dibutuhkan untuk penstabilkan dari letupan emosi yang dialami terkait peristiwa yang ada. Selain itu, dibutuhkan pula adanya rehabilitasi, yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi emosi menjadi stabil. Termasuk butuh reintegrasi, yang bertujuan bisa berperilaku yang wajar dalam melakukan aktifitas keseharian.

Untuk itulah, peranan dari petugas Psikologis dan Trauma Healing yang sudah diperbuat terhadap istri, anak dan sanak famili korban pembunuhan Salim Kancil  maupun penganiayaan Tosan termasuk masyarakat sekitar lokasi kejadian tragedi berdarah membuahkan hasil.

Hasilnya, pasca tragedi berdarah mulai istri, anak korban pembunuhan maupun penganiayaan termasuk masyarakat sekitar terlihat sudah memiliki kestabilan emosi atau berperilaku normal yang lebih baik dibanding sebelum dilaksanakan pendampingan Psikologis dan Trauma Healing.

Jika dikaji secara umum efek psikologis dari kasus itu bisa terlihat, bahwa ada  pengalaman traumatis yang dialami oleh keluarga korban maupun masyarakat sekitar. Indikasinya, antara lain terhadap keluarga korban ada perasaan dendam terhadap pelaku. Sedang pada masyarakat sekitar terlihat ada ketakutan untuk membuka diri dan berperilaku wajar, sehingga sedikit banyak bisa mengganggu rutinitas sehari hari.

Sementara setelah kegiatan pendampingan Psikologis dan Trauma Healing dilakukan menunjukkan, bahwa kondisi psikologis yang dialami mereka, maka perlu dilakukan penanganan yang bersifat komprehensif dari pihak pihak terkait. Mengingat, tragedi berdarah itu mengena kepada banyak pihak, baik keluarga korban maupun masyarakat sekitar tempat kejadian perkara (TKP), maka perlu dilakukan penanganan yang sama terhadap pihak terkait, terutama kepada para siswa lainnya yang mengetahui pada saat kasus terjadi.

Untuk  itulah, dibutuhkan instansi terkait disarankan dapatnya menjaga stabilitas kondisi psikologis yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan kontroling, bisa melalui Babinkamtibmas atau melakukan monitoring rutin pada wilayah (tragedi berdarah) tersebut melalui patroli. (mbah heru)

Fotro: Kabid Humas Polda, Kombes R.P Argo Yuwono

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here