15 kabid 3Tribrata.newsJatim: Satpolair, Polda Jatim berhasil menyita 6.181 ekor benih lopster untuk dikirim ke wilayah Banyuwangi, Jawa Timur dan mengamankan kedua pelaku berinisial AAS dan ES. Barang bukti berupa benur (benih Lobster) sebanyak  ± 6.181 ekor, nota jual – beli benur, mobil Toyota Rush Plat Nomor B 1082 BWK warna silver beserta STNK, dan buah serta uang Rp. 2.3 juta.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes R.P Argo Yuwono, Selasa (13/10/2015) mengatakan, kronologis pda Rabu (7/10/2015) sekira Jam 18.30 Wib, team lidik melakukan penyelidikan di wilayah perairan Tulungagung, Jawa Timur. Hasil penyisiran diperoleh informasi ada pengepul yang akan mengirimkan benih Lobster  ke pembeli dengan menggunakan mobil toyota Rush nopol  B 1082 BWK.

Saat itu juga usai menerima informasi, team lidik membuntuti mobil tersangka. Saat posisi mobil tersangka berada di Jalan Raya Bandung, Tulungagung. team lidik menghentikan mobil tersangka. Saat dilakukan pemeriksaan didapati di dalam mobil tersangka terdapat  sekitar 6.181 ekor benih Lobster yang dikemas plastik berisi air dan oksigen.

Tersangka beserta barang bukti dibawa ke Mako Ditpolair Polda Jatim guna proses pengusutan dengan dugaan melakukan usaha perikanan benih Lobster tanpa ijin atau SIUP.

Modus Operandi  yang dilakukan tersangka membeli benih Lobster dari para pengepul dan nelayan pesisir di sekitar wilayah Tulungagung dan Trenggalek, sehingga terkumpul sekitar 6.181 ekor benih Lobster, kemudian dikemas plastik bening yang berisi air dan oksigen dan diangkut dengan kendaraan roda empat untuk dibawa menuju Kabupaten Banyuwangi.

Atsas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 92 Undang-undang Republik Indonesia  Ancaman hukuman Pidana penjara paling lama Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Setiap orang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan republik indonesia melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudiayaan, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP.

Ancaman hukuman Pidana Penjara paling lama 8 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000. Dan pasal 88 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, mengeluarkan, mengadakan, mengedarkan dan/ atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidayaan ikan, sumber daya ikan dan/ atau lingkungan sumber daya ikan ke dalam dan/ atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, ancaman hukuman 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000  Jo pasal 55 KUHP. (mbah heru)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here