10 Kaplri 1Tribrata.newsJatim: Kapolri Jenderal Badrotin Haiti berjanji akan mengusut siapapun yang terlibat dalam kasus penambangan liar di Lumajang, baik pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan serta penambang pasir liar. Jumlah tersangka masih bisa berkembang, termasuk pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) dan tidak menutup kemungkinan pejabat Pemprov Jawa Timur. Mengingat, aksi kejahatan ini adalah berjamaah.

Namun demikian, tidak mudah untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka, harus memiliki alat bukti sebelum menetapkan menjadi tersangka. Bila ada alat bukti yang menguatkan, pejabat Pemda atau pengusaha bisa menjadi tersangka.

“Sepanjang ada fakta hukumnya, jumlah tersangka masih berkembang,” kata Badrodin, Sabtu (10/10/2015) sembari menambahkan hingga kini tersangka baru berasal dari warga dan Kades Selok Awar-awar, Hariyono.

Menurutnya, belum ada satu pun birokrat di Lumajang yang sudah masuk dalam daftar tersangka. Selain itu, tiga polisi juga menjadi terperiksa karena diduga melakukan pungutan liar (pungli) dari penambangan liar itu.

“Sekarang kami memproses disiplinnya  terhadap tiga oknum polisi. Usai ini tuntas baru melangkah yang lain.

Jenderal Polisi berbintang empat itu meminta kasus Lumajang diselesaikan secara baik. Untuk itu,  penyidik yang dipilih pilihan untuk menyelesaikan kasus yang merujuk pada tragedi Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, Jawa Timur itu.

“Mencuatnya kasus Lumajang saya minta bisa diselesaikan dengan baik. Ini adalah tuntutan saya,”  lanjut Badrodin Hait. Yang sejak Sabtu dan Minggu (10-11/10/2015) melakukan kunjungan di Jember dan Surabaya.

Dalam wawancara kepada wartawan seusai acara, Jenderal polisi asal Jember itu menegaskan,  bahwa proses hukum terhadap tragedi pertambangan itu sedang dilakukan.

“Sudah dilakukan proses hukum, bagi siapa saja yang terlibat, penambang, pelaku pembunuhan, Kepala Desa, bahkan anggota oknum Polri, semuanya dilakukan proses hukum,” ujarnya.

Oknum anggota Polri yang diduga terlibat dalam aliran dana tambang pasir laut di Desa Selok Awar-Awar, yang kini sudah menjalani sidang disiplin di Polda Jatim. Nantinya bisa saja sidang disiplin, bisa juga pidana. Kemungkinan bertambah (polisi yang diperiksa) juga bisa saja terjadi.

Hal itu melihat fakta hukum hasil penyidikan dan jika fakta hukum mendukung bisa ditindak.

Seperti diketahui, terjadi tragedi berdarah di Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, Sabtu (26/9/2015) lalu. Tragedi bermula dari penolakan petani terhadap penambangan pasir laut di Pantai Watu Pecak Desa setempat.

Penolakan itu berujung kepada penganiayaan dua orang petani yakni Salim Kancil dan Tosan, warga setempat. Salim Kancil dianiaya hingga tewas, sedangkan Tosan masih dirawat di RS Saiful Anwar Malang. (mbah heru)

Foto: Kapolri Jenderal Badrodin Haiti

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here