5 ArgoTribrata.news-Jatim: Kematian Salim alias Kancil, warga Dusun  Krajan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang mengerikan bukan adegan film aksi atau horor. Aksi ini benar benar meledak pada 26 September 2015,  sekitar pukul 08.00 WIB. Salim Kancil bukan aktifis seperti yang disebut sebut dalam pemberitaan, melainkan lelaki berusia 46 tahun itu petani.

Kisahnya,  pagi itu di Dusun Krajan II, Kabupaten Lumajang, puluhan orang mengendarai sepeda motor dengan dilengkapi senjata pentungan , dan cangkul (pacul) menyerbu Salim alias Kancil, yang kebetulan saat itu Salim bersama cucunya berusia 5 tahun berada di rumah. Tanpa diduga, mereka (para premanisme) membawa Salim  ke Balai Desa Selok Awar Awar yang berjarak sekitar  2 kilometer.

Begitu Salim berada di balai Desa tersebut, langsung tangannya diikat lalu dipukuli (dianiaya). Meski dianiya, Salim saat itu belum sampai tewas, kemudian digiring lagi dekat makam, yang waktu itu situasinya sepi. Dalam kondisi sepi inilah, Salim alias Kancil yang sudah tak berkutik nyawanya dihabisi.

Gerombolan yang sama sebelumnya melakukan hal yang serupa, melakukan penyiksaan terhadap Tosan (53). Petani yang warga Desa Krajan, Kabupaten Lumajang, ini juga dikenal sebagai penentang penembangan pasir besi di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Tosan pun juga jadi korban peneganiayaan. Bahkan tubuhnya juga ditelentangkan di tengah lapangan, lalu dilindas sampai berulangkali dan para pelaku baru berhenti, setelah  ada yang melerai. Tosan selamat, namun kini dirawat intensif  di Rumah Sakit karena lambungnya rusak.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes R.P Aryo Yuwono, Senin (5/10/2015) mengatakan,  nyawa Salim alias Kancil tidak akan melayang. Bahkan peristiwa mengenaskan itu tak bakal meletup, andaikata  pejabat dan penegak hukum  sigap. Mereka ini seolah olah tutup mata sekaligus menutup pendengarannya (telinga) terhadap konflik  masyarakat melawan PT  Indo Modern Mining  Sejahtera (IMMS) selaku penambang pasir.

Belakangan berubah menjadi masyarakat menghadapi penambang pasir liar yang disokong oleh Kepala Desa. Akhirnya sederat pembiaraan  atau kelalaian  secara mudah bisa diidentifikasi.

Pertama, Kepolisian  tidak segera berindak ketika pada 10  September lalu sekelompok orang  mendatangi rumah Tosan dan mengancam akan membunuh petani ini. Ancaman yang dilaporkan polisi secara tertulis pada  hari yang sama  ini terkesan terabaikan.

Kedua, pejabat setempat tidak  mampu mencari solusi atas konflik antara penambang pasir  dengan masyarakat yang sudah lama muncul. Dua tahun silam, fasilitas perusahaan penambang sampai dibakar oleh penduduk. Masyarakat merasa dirugikan, sementara perusahaan itu kurang memberikan konpensasi.

Kini sengketa atau situasi bisa saja  berubah. Dari penduduk berhadapan dengan perusahaan menjadi penduduk menghadapi penambang liar yang dibekingi oleh Kepala Desa setempat. Namun demikian, masalah ini tetap harus dipecahkan, dicarikan solusinya.

Ketiga, lambannya  pengusutan kasus korupsi dan perizinan  PT Indo Modern.Perusahaan ini dianggap  tidak memiliki izin  usaha pertambangan. Kerugian Negara diduga mencapai Rp 120 miliar. Kejaksaan telah menetapkan  petinggi perusahaan itu dan pejabat Kabupaten Lumajang sebagai tersangka.

Namun demikian, kasus yang mulai ditangani tahun 2014 hingga sekarang belum dibawa ke Pengadilan.

Setelah tragedi Salim alias Kancil dan Tosan mencuat, kini Kepolisian Daerah Jawa Timur berencana menutup  penambangan pasir  di sana. Langka ini bagus, meski kendati amat terlambat.

Kepolisian juga telah menjerat belasan orang  yang diduga terlibat  dalam penyiksaan Tosan dan pembunuhan Salim alias Kancil.

Publik tentu menanti langkah Komisi Nasional Hak Azasi Manusia, peristiwa ini jelas bukan kriminal biasa. Melainkan kejahatan  atas kemanusiaan. Komnas perlu turun tangan buat membongkar dalang dan pejabat yang terlibat, sekaligus memastikan  terjaminnya perlindungan hak azasi manusia  di Republik ini. (eru)

Foto: Kabid Humas Polda Jatim

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here