2 Waka polda 1TribratanewsJatim:  Kapolda Jatim, Irjen Anton Setiadji tak main main untuk menuntaskan kasus di Lumajang. Bahkan Jenderal Polisi berbintang dua itu bentuk khusus (timsus). Sedang  anggota Propam dan Inspektorat  Polda Jawa Timur terus mendalami kasus pembunuhan aktivis Anti tambang di Lumajang, Jawa Timur bernama Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan.

Waka Polda Jatim Brigjen Eddi Hariyanto mengatakan, saat ini anggota di lapangan mulai dari Babinkamtibmas, Kapolsek Pasirian, Kasat Reskrim hingga Kapolres Lumajang masih didengar keterangannya terkait kasus di Lumajang.

“Hari ini sedang didalami anggota-anggota yang dilapangan saat itu siapa saja. Mulai dari tingkat Babinkamtibmas, Kapolsek sampai Kapolres Lumajang,” kata Brigjen Eddi Hariyanto kepada wartawan usai salat Jumat di Masjid Nurul Huda di Mapolda, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jumat (2/10/2015).

Jenderal Polisi berbintang satu itu belum bisa memastikan dugaan keterlibatan oknum anggota terkait kasus tersebut maupun penambangan galin C pasir besi di Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang.

“Kami tetap terbuka. Kami tetap transparan. Memang masyarakat inginnya cepat. Tapi kami bekerja harus ada pembuktian dulu, mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Nggak bisa main copot, main tangkap, harus ada dasarnya,” ujarnya.

Terkait kasus pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan, penyidik gabungan Polda Jatim dan Polres Lumajang sudah menetapkan 23 tersangka, diantaranya Kades Selok Awar-Awar Hariyono selaku aktor intelektual (otak) dan dua anak dibawah umur. Namun demikian,  polisi terus mengembangkan, untuk mencari tersangka lainnya.

“Kami akan dalami. Tidak hanya terbatas tersangka yang ditahan disini (Mapolda Jatim). Tapi kami akan kembangkan siapa-siapa saja yang dibelakang kaksus itu,” tandasnya sambil menambahkan, para tersangka saat ini belum bisa dibesuk.

Sementara ini, lanjut Waka Polda,  masih dalam pemeriksaan. Kalau sudah selesai, boleh dibesuk. Untuk menghindari pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan dan kasus itu segera, dituntaskan terlebih dulu.  (mbah heru)

Foto: Waka Polda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here