30 Tahanan Kasus LumajangTribratanewsJatim : Baru 17 pelaku ikomplotan yang terlibat kekerasan dan pembunuhan  berencana terhadap dua warga Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajanag, Jawa Timur, Selasa (29/9/2015) malam menjadi penghuni rumah tahanan (Rutan) Polda Jatim. Sedang yang 3 pelaku lainnya masih proses penyidikan di Polres Lumajang. Sementara 2 tersangka dibawah umur terkenah wajib lapor masih di Lumajang, Jawa Timur.

Tercatat 22 pelaku itu, yang terlibat kasus tersebut segera tertanggani secara tuntas. Untuk sampai ke Mapolda Jatim, komplotan yang terlibat kasus tersebut diangkut dengan kendaraan tahanan dengan dikawal tiga unit mobil Patwal, dua mobil Sabhara dan satu ambulance. Selain itu, anggota melakukan pengawalan dilengkapi senjata lengkap.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Polres Lumajang sudah mengamankan 22 tersangka yang terlibat kasus pembunuhan berencana dan penganiayaan terhadap dua warga Desa Selok Awar Awar Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Mereka diduga sebagai pelaku penganiayaan hingga menghabisi nyawa Salim alias Kancil dan Tosan, ini masih dirawat di RS Syaiful Anwar Malang.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes R.P Argo Yuwono mengatakan, 2 dari 22 pelaku yang tergolong dibawah umur hanya dikenahkan wajib lapor. Sedang sisanya yang 20 pelaku dijebloskan tahanan.

Diantara identitas pelaku warga Selok Awar-awa,r Kecamatan Pasirian, Lumajang masing masing berinisial ED (40), MS (33), SI (58), HE (32), TE (58), SR (58), GT(49), SU (55), EDR (28), HA (41), TI (60), MD (65), WD (34), NG(54), RD (25), FW (30), EL (35) dan SL (50).

Kasus itu di-back-up oleh penyidik Ditreskrimum Polda Jatim dan penahanan para tersangka dipindah dari Polres Lumajang ke Mapolda Jatim. “ Kasus ini atensi Pimpinan (Kapolda Jatim, Irjen Anton Setiadji) dan tetap diusut tuntas hingga berkas perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan,” kata Kabid Humas.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat pasal 338 KUHP dan 340 jo 170 KUHP, karena aksi yang dilakukan dalam bentuk pengeroyokan, penganiayaan hingga menyebabkan terjadinya pembunuhan,” terang mantan Kasatlantas Polrestabes Surabaya itu.

Sedangkan para pelaku memiliki peran masing masing seperti mulai memerintah, mengajak, memukul, melempar dan menyetrum korban.

Untuk bisa menuntaskan kasus itu, penyidik Polres Lumajang di-back-up oleh penyidik dari Ditreskrimum Polda Jatim. Tim penyidik harus bekerja ekstra, agar kasus ini bisa terselesaikan dan pemeriksaan secara maraton terus dilakukan.

Usut Tuntas

Smentara itu, Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo) menyikapi serius kasus tewasnya aktivis penolak tambang di Lumajang, Jawa Timur. Pakde Karwo minta Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji mengusut tuntas kasus tersebut.

“Terkait kasus Lumajang ini, saya sudah minta Kapolda Jatim untuk mengusut tuntas,” tegasnya, Senin (28/9/2015).

Bentuk penyelesaiannya, kata Pakde Karwo, jika kasus yang terjadi permasalahan hukum, maka harus diselesaikan dengan hukum. Tidak boleh dengan kekerasan. “Siapapun yang melanggar hukum harus ditindak,” tandasnya.

Menurutnya, penganiayaan aktivis tambang di Lumajang hingga tewas merupakan kasus pidana. Sehingga penyelesaiannya juga harus dilakukan secara pidana.

Sementara terkait kasus pertambangannya, Pakde Karwo minta harus dicek di lapangan terlebih dahulu. Nah, jika hasil pengecekan penambangan yang berlokasi di obyek wisata Watu Pecak Pinggir Pantai Selatan itu legal, maka bisa tetap dilanjutkan.

“Tapi kalau ilegal, maka harus dihentikan secepatnya,” lanjut Pakde Karwo.

Aksi warga di Lumajang menolak aktivitas pertambangan besi di kawasan Watu Pecak, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur berujung maut, Sabtu (26/9/2015) lalu.

Salim (30), seorang warga tewas dianiaya dan Tosan (40), seorang lainnya kondisinya kritis. (mbah heru)

Foto: para pelaku saat berada di Mapolda Jatim

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here